bath-tube-curve

Kurva Bak Mandi dan Garansi

Barang yang berbau elektronik (harddisk, lampu, dsb) ternyata memiliki perilaku tingkat kerusakan yang sama. Tingkat kerusakan atau failure rate dijelaskan beautifully by this nice-shaped curve.

Sesuai dengan bentuknya, kurva di atas bernama bathtub curve atau kurva bak mandi. Kurva ini menunjukkan probabilitas komponen rusak atau mengalami failure terhadap waktu.

Ada beberapa hal di kurva tersebut yang mungkin mengejutkan kita. (Faktor suprise inilah yang bikin menarik :) ). Pertama, why on earth barang baru memiliki probabilitas rusak yang tinggi? Well, kenyataannya memang seperti itu. Barang-barang yang baru saja dimanufaktur dari pabrik memiliki kemungkinan cacat bawaan pabrik. Contohnya, produsen chip biasanya mem-burn-in (mengetes) chip-chip yang selesai diproduksi. Banyak chip yang gagal, sedangkan sisanya yang tidak gagal dilepas ke pasaran. Tetapi, produsen chip tidak bisa menjamin juga sisa chipnya tidak mengalami failure saat sudah sampai di konsumen.

Continue reading

Berburu Video Online Course

Satu hal yang paling saya suka dari internet yaitu bisa mendownload video-video online course. Video-video kuliah ini begitu bagusnya. Mereka (dosen-dosen) memang pakar-pakarnya. Kegairahan mereka terhadap ilmu yang terlihat di video sangat menginspirasi. he..he (berlebihan nggak sih?). Yang lebih diutamakan adalah insights bukan hanya drill soal-soal.

Selama 2 tahun (saya baru tahu ada video-video ini 2007 kemarin), saya sudah mengoleksi 150 vids lebih. Ukuran 1 video kurang lebih 100 MB. Dengan kecepatan speedy sekitar 30 KBps, dibutuhkan waktu kurang lebih 1 jam. Cukup lama memang tapi worth it.

Belajar melalui video kuliah ini juga menyenangkan. Bila ada hal-hal yang tidak jelas, videonya bisa kita rewind. Boleh di-rewind sesuka kita sampai puas (eh.. paham). Beda jika di kelas. Setelah dosen berpanjang lebar menjelaskan, kita bertanya “Pak, tadi bisa diulang?”, wah jadi target celaan kita :-)

Situs favorit saya untuk mengunduh selama ini adalah http://ocw.mit.edu. Situs ini merupakan situs opencourseware miliknya MIT. Beberapa mata kuliah yang diajarkan di MIT divideokan sehingga banyak orang yang tidak beruntung kuliah di sana (seperti saya-saya ini :-) ) bisa ikut belajar. Materi kuliah meliputi banyak disiplin ilmu. Dari situs ini saya sudah belajar algoritma, aljabar linier, sistem komputer, rangkaian listrik dan elektronik, fisika mekanika, calculus, dan struktur dan interpretasi program computer (SICP).

Situs favorit saya yang lain yang tidak kalah bagusnya adalah http://aduni.org. Situs ini berisi video-video bidang computer science. Saya juga banyak mendownload video dari sini. Selama kuliah kemarin, video-video inilah supplement saya belajar. Bahkan seringnya, video-video ini malah lebih mendalam dari kuliah di kelas :-) Dari situs ini saya sudah belajar database, matematika diskrit, kecerdasan buatan, algoritma, dan teori komputasi.

Ada situs lagi miliknya Stanford di http://see.stanford.edu yang video-videonya saya download. Terutama video Fourier Transform and Its Application karena dulu transformasi fourier merupakan misteri bagi saya. Saya dulu bingung kenapa sih orang-orang membicarakan frekuensi, kenapa bukan amplitudo atau panjang gelombang? Pentingkah yang namanya frekuensi? Jawaban setelah melihat video: penting buangeet.

Itulah situs-situs yang memberi banyak impact bagi pemahaman saya yang rusty setelah lulus kuliah :-( . Semoga teman-teman yang lain dapat mengambil manfaatnya juga… Happy Learning!

Baca Negnevitsky

Ayo belajar Neural Network sehingga ngerti dan bisa jawab kalau ditanyain.

Buku Negnevitsky “AI: A Guide to Intelligent System” nampaknya asyik untuk dibaca. Baca bagian-bagian awalnya, ternyata cukup jelas dan gamblang, meminjam istilah yang dipakai Nyoman. Setelah neural network, saya juga ingin baca bagian fuzzy-nya serta rule-based expert system-nya. Lumayan buat pembanding dengan buku “A Course in Fuzzy System” dan “AI: A Knowledge Based Approach” yang sudah digunakan sebagai buku teks kuliah.

Kebetulan juga format isinya klop dengan yang saya maui. Sejak dulu saya ingin me-make sense konsep-konsep ilmu yang didapat. Bahasan dalam buku Negnevitsky ini dimulai dengan pertanyaan. Pertanyaannya menggali alasan kenapa konsep-konsep tersebut digunakan, bagaimana menggunakannya, kenapa masuk akal, dan sebagainya. Ini sama juga dengan yang mau saya tanyakan. Karena dengan begini, saya jadi termotivasi belajarnya. Saya ingin betul-betul memahaminya, bukan hanya dengan penghafalan. Cara belajar ini sudah saya praktekkan saat mempelajari probabilitas. Meskipun belum selesai, hasilnya sudah lumayan. Dulu saya kesulitan membedakan kapan menggunakan permutasi dan kapan menggunakan kombinasi. Namun sekarang sudah bisa, meskipun nggak mahir-mahir amat.

Hal yang sama juga berlaku pada konsep standar deviasi. Hanya tahu rumusnya saja tetapi nggak ngerti kenapa standar deviasi digunakan, kenapa rumusnya bisa seperti itu. Untung ada blog yang membahas standar deviasi. Setelah baca, baru paham dan bisa menerima konsep standar deviasi. Artikel yang membahas standar deviasi tersebut berjudul “Making Sense Standard Deviation”. (Bisa dibaca di sini: http://amarsagoo.blogspot.com/2007/09/making-sense-of-standard-deviation.html). He..he..he..Jujur, istilah me-make sense yang saya gunakan, saya pinjam dari judulnya ini. Meskipun ngikut-ngikut, tapi tujuan saya memang seperti itu. Ya udah saya pakai istilah me-make sense untuk seterusnya.