Saya dulu pernah menumpang baca buku “Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer” miliknya teman saya Nyoman. Buku tersebut ditulis oleh Jujun S. Bukunya sendiri cukup menarik dan ringan bagi orang awam seperti saya (namanya juga pengantar populer
). Tetapi ada satu kutipan di bagian pengantar yang dulu saya tidak tahu bagaimana meresponnya. Kira-kira begini:
Jika tuhan maha kuasa, mungkinkah tuhan menciptakan batu yang sedemikian besarnya sehingga tuhan tidak kuasa mengangkatnya?
Pertanyaan di atas cukup tricky. Jika dijawab ya, berarti tidak maha kuasa karena tidak kuasa mengangkat. Tapi ini bertentangan dengan pernyataan tuhan maha kuasa. Jika dijawab tidak mungkin, berarti maha kuasa karena kuasa mengangkat. Tapi jadi tidak maha kuasa lagi karena tidak kuasa menciptakan batu yang maha besar.
(Note: pada kalimat yang selanjutnya, saya tidak menggunakan kata tuhan lagi untuk menghindari sara
. Diganti dengan huruf saja (mis. si A))
Jawaban saya sementara ini adalah tidak ada jawaban. Ayolah, pertanyaan ini menimbulkan paradoks. Pola jawaban yang mungkin ya seperti di atas. Jika ya, berarti tidak. Jika tidak, berarti ya. Kasusnya mirip-mirip dengan paradoks Russell yang mempermasalahkan tentang pendefinisian himpunan.
Bagaimana teman-teman menjawab pertanyaan ini. “This sentence is false“, pertanyaannya: Benarkah kalimat ini? Jika kalimatnya diasumsikan true, maka apa yang dikatakannya (“This sentence is false“) haruslah true secara faktual. Tapi, jika begini, maka kalimat ini false seperti yang dinyatakannya. Artinya, kalimat ini kedua-duanya true dan false! (paradoks). Jika diasumsikan sebaliknya (false), juga akan begitu.
Kembali pada kasus maha kuasa tadi, ini (mungkin) ada kaitannya dengan paradoks Russel. Ilustrasinya mungkin sebagai berikut:
A bilang kepada para warga kota:
Kalau tidak ada seorangpun di kota ini yang mampu mengangkat batu yang dibuat A (saya) berarti A maha kuasa.
Si B tidak mampu, C tidak mampu, D, E, dst tidak mampu –> menunjukkan A maha kuasa.
Jadi, Kalau ada seseorang di kota yang mampu mengangkat batu seberat apapun yang dibuat A berarti A tidak maha kuasa.
So far so good…
Permasalahan timbul kalau himpunan orang-orang kota untuk mengetes kemahakuasaan A juga mengikutsertakan A.
- Jika A mampu mengangkat batu yang dibuatnya sendiri berarti A tidak maha kuasa.
- Jika A tidak kuasa mengangkat batu yang dibuatnya sendiri berarti A maha kuasa.
Akhirnya, menjadi paradoks