Di dunia ini ada dua jenis waktu. Waktu mekanis dan waktu tubuh. Waktu yang pertama kaku, laksana pendulum besi raksasa yang berayun maju-mundur. Waktu yang kedua bergeliung-geliut seperti ikan cucut di teluk. Waktu yang pertama tak dapat ditolak, telah ditetapkan sebelumnya. Waktu yang kedua mengambil keputusan sekehendak hati.

Beberapa orang tidak yakin bahwa waktu mekanis itu ada. Ketika melewati jam raksasa di Kramgasse mereka tidak melihatnya. Mereka mengenakan jam di pergelangan tangan, tetapi itu sekedar ornamen atau semacam sopan santun bagi yang ingin memberikannya sebagai hadiah. Mereka juga tidak menyimpan jam dinding di rumah. Sebagai gantinya, mereka mendengarkan detak jantung. Mereka merasakan irama suasana hati dan birahi mereka. Mereka makan saat lapar, pergi ke tempat kerja kapan saja ketika terbangun dari tidur, bermain cinta sepanjang hari. Beberapa orang bahkan menertawakan pemikiran tentang waktu mekanis. Mereka tahu bahwa waktu bergerak tidak beraturan. Mereka tahu bahwa waktu terus maju dengan beban di punggungnya, seperti saat mereka buru-buru membawa seorang anak yang terluka ke rumah sakit, atau ketika tatapan tetangga merasa mengganggu. Mereka juga tahu bahwa waktu melaju cepat melintasi padang visi tatkala sedang makan enak bersama teman-teman, atau ketika menerima pujian atau rayuan dalam pelukan kekasih gelap.