contoh sarcasm

Sarkasme

“You’re right, Leonard. It’s not a big deal. All you did was lie to me, destroy my dream, and humiliate me in front of the whole university. That, FYI, was sarcasm.” :D
(FYI = For Your Information)

Saya selalu penasaran dengan kata sarkasme. Kata ini sering diucapkan oleh banyak orang. Meski demikian, saya tidak bisa menangkap apa tepatnya arti sarkasme ini. Karena mood-nya sedang bagus, saya coba buka-buka web untuk mencari tahu.

Sarcasm society mendefinisikan sarkasme seperti ini:

Sarkasme adalah pernyataan yang tajam dalam bentuk ironi yang ditujukan untuk melukai. Sarkasme ini sering digunakan dalam humor.

Bila kita (anda :) ) punya masalah memahami definisi ini, lebih baik waktu kita (anda) dihabiskan untuk mempelajari bidang lain saja. He..he.. (sarcasm mode: on) :)

Continue reading

Teman dari Teman dari Teman (di Facebook)

Di halaman depan facebook, terdapat gambar peta pertemanan seperti ini.

Ada gambar orang dan garis-garis penghubung. Bila dua orang berteman, maka terdapat garis patah-patah yang menghubungkan keduanya. Ini dugaan saya. :)

Kita iseng-iseng bertanya berapa langkah (steps) yang diperlukan dari orang yang satu ke orang yang lain? Dengan kata lain, seberapa jauh jarak dua orang terpisah dalam peta pertemanan ini?

Gilbert Strang (dosen linear algebra di video kuliah ocw mit) mengklaim bahwa jarak dia terhadap Bill Clinton hanya dua! Dia tidak mengenal Clinton, tetapi dia kenal dengan seseorang yang mengenal Clinton (video kuliah ini direkam tahun 2000, Bill Clinton masih menjadi presiden Amerika saat itu). Temannya adalah seorang senator. Kemungkinan besar temannya itu kenal Bill Clinton.

Continue reading

Anti-Lock Brake System

Postingan kali ini membahas sistem yang mencegah roda mobil tergelincir (sliding). Prinsip kerjanya mudah dipahami. The beauty dari sistem ini adalah idenya yang simpel (meski realisasinya bisa kompleks :) ). Sistem ini memiliki nama keren Anti-Lock Brake System atau ABS .

Untuk apa tahu ABS? Well, kita sering melihat stiker yang bertuliskan ABS ditempel di belakang mobil. Itu tandanya mobil tersebut memilki fitur Anti-Lock Brake System. Mungkin, mobil kita sendiri juga ada sistem ABS-nya. Rasanya menyenangkan mengetahui cara kerja benda-benda di sekitar kita. (Btw, saya mendapat penjelasan ABS setelah melihat video lecture rangkaian listrik).

Di waktu pengereman mendadak, kita menginjak rem dengan sangat keras sehingga roda mobil menjadi terkunci (sama sekali tidak berputar). Bila ban tidak mendapatkan gesekan jalan yang cukup, ban menjadi slide. Dalam keadaan ini, setir kemudi tidak bisa mengendalikan roda dan mobil akan terus melaju ke depan.

Seperti terlihat di atas, mobil dengan ABS dapat menghindari rintangan, sedangkan mobil tanpa ABS terus berjalan lurus. Hal ini karena ABS mencegah roda terkunci dan tergelincir, sehingga pengemudi tetap dapat menguasai steering control-nya. Prinsip kerja ABS cukup simpel, diilustrasikan seperti ini.


[Picture credit: course materials for 6.002 Circuits and Electronics OpenCourseWare MIT]

Ada controller di sebelah kiri. Ada juga orang (kalau di mobil, sensor :) ) mengamati roda. Tugas pengamat hanyalah mengatakan apakah rodanya berputar atau tidak. Dia memberikan feedback ke controller. Jika pengamat bilang ke controller rodanya berhenti berputar (no), controller akan melepaskan (release) rem. Jika pengamat bilang rodanya berputar (yes), controller akan mengerem (apply). Sistem ABS ini akan bekerja jika roda mulai terkunci.

Kira-kira begini contoh percakapan antara pengamat dengan controller. Oops, roda terkunci. Lepaskan rem. Oh, roda berputar. Injak rem. Oops terkunci lagi. Lepaskan rem. Oops mulai berputar. Rem, rem, rem. Oops terkunci. Lepaskan rem. :)

Dengan cara seperti ini, roda tetap dalam region gesekan yang mencegah sliding. ABS akan berhenti bekerja jika kita tidak lagi menginjak pedal rem dengan keras.

grafik 2

Berbohong dengan Statistik (Grafik)

Ketika kata-kata dan tabel kurang kuat untuk mendukung argumentasi, mereka lantas beralih menggunakan grafik. Tool yang eye-catching! Kali ini melanjutkan postingan Berbohong dengan Statistik, kita beralih ke trik menggunakan grafik. Di bab “The Gee-Wiz Graph“, Darrel Huff membahas trik ini dengan menarik. I will summarize his stories so that in a shorter time you’ll get the ideas

Line graph sangat berguna untuk menunjukkan trends. Misalkan, kita ingin menggambar grafik yang menunjukkan bagaimana pendapatan nasional naik sebesar 10% dalam setahun. Bagaimana kita akan menggambarnya? Easy. Tulis di sebelah bawah nama-nama bulan dan di sampingnya angka-angka dalam satuan billion dollars (verbatim, repot mengadaptasikannya ke rupiah :) ). Letakkan point-point kita, lalu gambar garis yang menghubungkan point-point tersebut. Kurang lebih grafiknya seperti ini.

Nah, gambar ini cukup jelas. Grafik menunjukkan apa yang terjadi dalam setahun. Yang membaca bisa memahaminya karena grafik ini proporsional dan juga ada titik origin (nol) di bawahnya untuk perbandingan. 10% persen terlihat seperti 10% :) .

Grafik ini serves well jika goal kita menyampaikan informasi. Tetapi misalkan kita ingin memenangkan argumen, mengejutkan pembaca, atau menjual sesuatu. Untuk goal tersebut, grafik ini terlihat kurang impresif. Kita lantas memotongnya seperti ini.

Lumayan. Angka-angkanya masih sama, begitu juga kurvanya. Tidak ada yang diubah kecuali impresi yang diberikan. Pembaca sekarang melihat garis pendapatan nasional menanjak sepanjang hampir sepertiga halaman, karena kebanyakan bagian grafik asli tidak ada di situ lagi. Secara visual, kenaikan yang kecil menjadi tiba-tiba besar. Pembaca yang tidak teliti bisa terkecoh.

Setelah trik truncating, kita dapat menambah trik lainnya yang lebih impresif lagi. Tinggal ganti proporsi antara sumbu x dan y. Tidak ada yang melarang. Tick-mark yang kita gunakan sekarang 1/10 dari tick-mark grafik sebelumnya.

Wow … impresif bukan? Siapapun yang melihatnya pasti mengira betapa makmurnya negara itu. :)

Trik lain yang sering dipakai adalah dengan memotong bar chart di tengah-tengah seperti ini.

Pemotongan ini menandakan tick-mark yang pertama setelah titik origin langsung 3,100,000. Lihat kenaikan dari last quarter 1952 ke first quarter 1953. Kenaikan yang hanya (3.205.000-3.140.709) = 64291 atau sekitar 2%, tiba-tiba terlihat seperti 100% atau dua kalinya.

That’s it for today, happy statistics … :)

Life and Music

We think of life as a journey with a destination (success). But we missed the point. It was a musical thing, we were supposed to sing and dance while music was being played.

Check out this interesting video flash: http://www.youtube.com/watch?v=WGoTmNU_5A0

Insights seperti biasa muncul belakangan.

Biasanya trap seperti ini juga terjadi di sekolah, seperti yang saya alami. Murid mengerjakan tugas dari pengajar. Lantas, pengajar memberikan the so-called umpan balik dalam bentuk nilai. Untuk mengupgrade nilai, kita melakukan apa saja sesuai dengan selera pengajar. Good. Akan tetapi ada satu hal yang sering kita lupakan: feedback dari diri sendiri. What we feel? Apakah cara ini membantu pemahaman kita? Seberapa paham kita? Kalau belum paham, adakah cara yang lain?

Saat pelajaran biologi di sekolah menengah dulu, tiap seminggu sekali guru saya memberikan tugas merangkum buku. Tugas tersebut lalu diberi nilai. Mulanya saya dapat 60. Well, saya tidak puas, saya ingin 80. Saya lihat teman yang mendapat nilai 80, gambar di buku rangkumannya diwarna-warni. Saya lalu mewarnainya juga. OK, dapat 70, tetapi saya mau lebih. Saya juga lihat teman yang mendapat nilai tertinggi menambahkan gradasi warna. Nampaknya guru saya menyukai fancy pictures :) . Saya tambahkan juga gradasinya.

Tentu saja, bagian menggambar inilah yang mengambil porsi paling banyak dari waktu pengerjaan. Yeah, akhirnya mendapat 80. Beberapa tahun kemudian, pelajaran biologi tidak ada yang menyangkut di kepala. Saya baru sadar, yeah you guess, ternyata saat itu saya mendapat pelajaran menggambar :) .

Bagi mahasiswa pemrograman, mungkin pernah dituntut untuk belajar text editor yang advanced seperti Vim. Learning curve Vim cukup terjal. Tetapi sekali lagi, don’t miss the point. Belajar Vim, Debugger (tool melacak error), dan tool yang lainnya bukan untuk mengesankan guru, dosen, atau profesor. Akan tetapi untuk membantu kita, for our own sake. To save time and frustration. Dengan begitu kita bisa enjoy mengerjakan tugas atau yang lainnya.

Pertanyaan trivial yang saya dapati dari halaman pertama slide Debugging dari Norm Matloff mengingatkan akan hal ini.

Have you sung and danced today? :)